STYLISH DALAM KEHIDUPAN PESANTREN (SANTRI)

Stylish? apa yang terlintas dalam benak saat mendengar kalimat tersebut ? apakah sebuah penampilan yang wow mewah yang sering menyebut “wow, stylenya keren” ? benar karena jika sudah berbicara tentang stylish pasti tidak jauh dari barang yang bernama baju, aksesoris, make-up sepatu dan tas yang terbaru yang pas dengan tubuh. Semua harus terlihat sempurna dari atas kepala sampai ujung kaki. Sehingga membuat dirinya sibuk untuk terlihat sempurna di mata orang lain sampai membuat dirinya lupa apa yang sebenarnya urgen untuk memperbaiki hal yang lain selain jasmani. Sehingga membuat dirinya lupa pada keadaan sekitar bahkan bisa jadi lupa atau tidak sadar akan kesalahan diri sendiri.

Arti dari Style itu sendiri yaitu berasal dari bahasa inggris yang menurut kamus Oxword berarti suatu cara berperilaku khusus untuk mempertunjukkan atau memperkenalkan sesuatu. Style merupakan gaya baru yang bersifat modern atau sesuai arus zaman dan tidak klasik atau kuno. Sehingga terkadang membuat seseorang dengan gaya stylenya yang keren atau bagus membuat dirinya percaya diri.

Tak dapat dipungkiri bahwa gaya di zaman sekarang adalah segalanya, apalagi bagi kaum hawa yang sangat peduli pada penampilannya. Tetapi ada juga sebagian perempuan yang tidak perduli pada penampilannya, bukan tidak peduli 100% terhadap penampilannya tapi katakanlah sederhana dalam berpenampilan. Tidak ada salahnya mempercantik diri dengan berpenampilan stylish sesuai zaman, karena hal itu akan membuang persepsi masyarakat barat tentang umat islam yang menurut mereka buta  akan dunia modern.

Stylish identik dengan orang yang fashionable. Yaitu orang yang selalu mengikuti trend pada eranya, yang berawal dari penampilan sampai hal-hal yang tidak penting. Fakta menunjukkan bahwa fenomenanya stylish yang terkesan berlebihan telah menyentuh ranah pesantren. Seperti alat-alat make up yang sudah dikenakan oleh para santri seperti maskara, diamond, eyeliner, lipstik dan lainnya. Perilaku tersebut melenceng dari status santri sebagaimana pada hakikatnya santri identik dengan gaya dan pola hidup yang sederhana.

Santri istilah yang sangat familiar dalam kehidupan masyarakat. Bagi umat islam kedudukan santri setara dengan biarawati dan pendeta dalam agama hindu atau budha. Menurut Prof. Dr, Zamakhsyari Dhofier secara bahasa santri diambil dari “tamil” yan berarti “guru mengaji”. Ada juga yang berpendapat bahwa santri adalah berasal dari bahasa sangskerta yaitu “shastri” yang berarti ilmuan hindu yang memiliki pengetahuan tentang kitab suci dan pandai menulis kitab-kitab kuno.

Sedangkan menurut Kamus Besar Bahasa Idonesia (KBBI) santri adalah sebagai orang yang  mendalami agama islam serta orang yang mendalami pengajiannya dengan berguru ke tempat yang jauh seperti pesantren. Sedangkan menurut wikepedia santri adalah sebutan bagi seorang yang mengikuti pendidikan agama islam di pesantren. Dalam pesantren inilah seorang santri digodok untuk cakap dalam memahami ilmu serta berperilaku dan bertutur kata yang baik atau sopan.

Namun seiring berkembangnya zaman, santri sudah mulai kehilangan hakikat yang sesungguhnya bagi santri itu sendiri. Dapat dibuktikan dengan terpecahnya santri yang menjadi dua bagian yaitu santri tradisional dan santri modern. Santri tradisional adalah santri yang tetap utuh meski zaman semakin rapuh, tetap menjunjung dan mengutamakan agama sebagai prioritas. Sebaliknya, santri modern adalah santri yang mengikuti pergaulan zaman tanpa bisa menyeimbangkan dengan ilmu keagamaannya.

Dapat dilihat dari cara berpakaian, santri modern menampilkan diri dalam dunia fashion dengan berbagai seperangkat barang keluaran terbaru bahkan cara berpenampilan yang ikut diperbaharui. Hal ini tentu saja berlawanan dengan hakikat santri yang sederhana.
Lantas, perlukah seorang santri berpenampilan stylish ? perlu, karena tak dapat kita sangkal bahwa kita berada di zaman modern. Kita tak dapat mengelak lagi dari zaman yang terus menerus berkembang. Tetapi, kita harus sadar berpenampilan fashionable itu boleh asal sesuai dengan status kita yaitu sebagai santri jangan sampai melenceng dari hakikat seorang santri yang sesungguhnya. Kita harus mengenal jati diri kita sendiri yaitu sebagai santri sehingga kita tidak mudah terseret arus zaman itu sendiri. Terkadang seorang santri hanya latah melihat model style pada zamannya lalu menirunya tanpa berpikir apakah penampilannya sejalan dengan lingkungan dan status mereka sebagai santri ? mereka hanya berpikir mengedepankan penampilan dari pada prinsip yang seharusnya mereka pegang teguh.

Perlu diketahui segala sesuatu pasti memiliki dampak positif dan dampak negatif. Kita dapat melihat dari dampak positifnya yaitu meskipun kita berstatus santri tapi bukan berarti out of date, jadi seorang santri juga bisa berpenampilan anggun sesuai dengan trend masa kini. Namun jika dilihat dari sisi negatifnya yaitu seorang santri akan lebih mementingkan style tanpa tahu situasi dan kondisi di sekitar. Berpenampilanlah sederhana disesuaikan dimana kita berada karena adaptasi itu penting agar kita tidak musnah dan terkucilkan dari lingkungan kita sendiri. Sebagai seorang santri cukup berpenampilan bersih, rapi dan serasi, sopan itu sudah cukup karena pada hakikatnya santri identik dengan pola hidup yang sederhana.

Sifat stylish hanyalah sebuah topeng yang biasanya digunakan untuk memuaskan tuntutan dalam diri individu. Pergaulan kaum sebaya dan media massa selalu memberikan style terbaru untuk masyarakat agar tidak so over green (kampungan). Baju trendy dan modis, soft lance, diamond, aksesoris yang berlebihan, make up yang over merupakan hal yang familiar dan sangat melekat pada diri seseorang yang stylish.
Pada dasarnya, mengikuti mood trend terkini bukan merupakan kesalahan atau dosa yang ditaubati, melainkan setiap manusia mempunyai hak untuk mengikuti gaya hidup tidak terkecualikan santri. Tetapi bukan berarti kita bebas mengikuti gaya hidup yang “tidak semestinya”. Agama kita islam tidak melarang seseorang untuk bergaya sesuai keinginan asalkan pantas dengan kategori syariat islam.
Seorang santri yang berdiam di pondok pesantren tidak pantas berpenampilan yang berlebihan. Namun, yang menjadi kemaslahatan saat ini yaitu santri yang rusak terhadap akhlaqnya sendiri. Kemajuan cara dalam tampilan sosial melatarbelakangi santri yang peduli dengan style, santri yang stylish cenderung bersikap layaknya bukan santri, Sikap santri tersebut dapat melucuti tali syariat. Benarkah sikap santri seperti hal tersebut ? tentu tidak, akibat dari arus globalisasi telah mendunia, tidak dapat dielakkan lagi santri modern update dengan trend di masa kini.

Ketika para santri meninggalkan pesantren dan terjun ke tengah masyarakat sedikit banyaknya akan meninggalkan kebudayaan pesantren yang sederhana. Mereka akan terpengaruh dunia luar yang mengedepankan stylish. Tidak salah jika ingin mempercantik diri dengan berpenampilan stylish sesuai zaman, akan tetapi hal itu tidak boleh dijadikan alasan untuk selalu memperhatikan penampilan tubuh dan lupa akan tingkah laku yang benar dan baik. Mode memang boleh diikuti, tapi jangan sampai melewati standar yang ada.

Santri diharapkan dapat bisa memperbaiki budaya maupun tradisi zaman sekarang yang semakin melenceng dari norma agama. pantasnya kita sendirilah yang harus memperbaiki diri meskipun keadaan di luar meraja lela, lebih-lebih lagi seorang santri yang telah di cap sebagai cerminan etika di tengah-tengah masyarakat. Maka santri harus menyadari dirinya sendiri bahwa harus berperilaku sesuai dengan hakikat seorang santri yang sesungguhnya yaitu sederhana.

Penulis: Hayati (Mahasiswi FEB Universitas Trunojoyo)
Dosen Pengampu : Robiatul Auliyah, S.E., MSA. (Dosen FEB Universitas Trunojoyo)

Komentar (0)

Posting Komentar